BERBURU DRONE
Dilansir Make, drone-jamming adalah teknologi pengacau frekuensi radio pengendali untuk menghentikan drone yang sedang mengudara dengan cara yang aman. Cara ini dioperasikan menggunakan standar GPS dan pita radio ISM sehingga dapat menginterfensi sinyal UAV (Unmanned Aerial Vehicle) komersial.
Salah satu alat yang digunakan dalam drone-jamming adalah DroneDefender. Alat berbentuk seperti senapan masa depan ini dalam demonstrasinya mampu "menembak" objek sejauh 400 meter dengan diameter kemiringan 30 derajat.
Masih ada beberapa cara lain untuk menghentikan drone yang sedang mengangkasa. Bahkan kepolisian Belanda belum lama ini melatih sejumlah burung elang bondol untuk memburu drone.
Menurut The Daily Beast, kepolisian Belanda pun bekerja sama dengan Guard From Above -- perusahaan asal Denmark yang spesialis melatih pelatihan burung elang. Elang yang sudah terlatih ini akan mengenali drone dan sigap menangkapnya ketika diperintah.
Elang merupakan salah satu hewan predator yang memilliki naluri memangsa. Naluri inilah yang dilatih agar mereka mengenali drone sebagai "mangsa."
Di Jepang, kepolisian Tokyo memanfaatkan teknologi untuk menghentikan drone di angkasa. Mereka menggunakan drone lain yang dipasangi jaring di bagian bawah.
Sang polisi sebagai pilot akan mendekati drone sasaran sehingga baling-balingnya akan menyangkut di jaring. Drone polisi menggunakan Jaring selebar satu meter, dan panjang dua-tiga meter.
Menurut The Telegraph, cara ini diperkenalkan pada Desember 2015 dan mulai digunakan secara luas pada Februari 2016. Di Jepang, drone dilarang terbang di beberapa lokasi tertentu --salah satunya bandara. Selain itu drone dilarang terbang di atas 150 meter dari permukaan tanah.
Para ilmuwan Human-Interactive Robotics Lab (HIRoLab) di Michigan Technological University, Amerika Serikat, juga berhasil mempatenkan sebuah sistem penangkapan drone dengan menggunakan drone.
Sistem ini menggunakan konsep menembakkan jaring ke drone sasaran. Konsepnya persis seperti tindakan pahlawan super Spiderman ketika ingin menjatuhkan musuh.
Gizmodo menulis, para pencipta sistem bernama Robotic Falcony ini mengatakan bahwa drone penangkap dilengkapi alat penembak jaring. Sehingga ketika berhadapan dengan drone lain, drone ini bisa cepat menjatuhkannya.
Drone pemburu makin canggih lantaran bisa diatur menembak sasaran secara otomatis atau tetap dikendalikan secara manual dengan remote.
Cara "Spiderman" juga ditempuh SkyWall 100. Dilansir The Next Web, drone ciptaan kelompok ilmuwan asal Inggris ini merupakan meriam jaring yang digunakan layaknya senjata Bazooka.
Peluru meriam ini memiliki bobot sekitar 10 kg dan ditembakkan melalui sistem kompresi udara. Peluru dapat melesat untuk mengangkap drone hingga ketinggian 100 meter.
SkyWall 100 memiliki kecerdasan yang secara otomatis mengkalibrasi vektor drone dan jaraknya. Kecerdasan ini akan memudahkan si penembak untuk membimbing arah senapan secara spesifik agar mengenai sasaran.
Setelah ditembakkan, peluru jaring SkyWall 100 akan terbuka lebar dan menangkap objek. Untuk mengurangi resiko kerusakan, drone yang telah ditangkap jaring akan diturunkan ke tanah dengan parasut.
Belum ada informasi mengenai harga atau kapan SkyWall 100 bakal tersedia di pasar. Yang pasti produsen berusaha untuk menyediakannya pada akhir 2016.
Komentar
Posting Komentar